Pages

Monday, June 1, 2015

Blog Tour - Interview: Marry Now, Sorry Later

Haii!!!

Selamat datang di perhentian blog tour Marry Now Sorry Later ke-13!!!! Angka cantik nih.



Masih belum bosan kaaan? Belum dong ya.. Soalnya masih banyak keseruan yang bisa kamu nikmati di blog tour ini. Sekarang, pertama-tama, baca yuk hasil interview saya dengan Christian Simamora:




Abang Christian Simamora ini selalu asyik orangnya. Saya sudah beberapa kali datang ke talkshow di mana Abang jadi pembicaranya dan nggaaaak pernah bosan. Selain seru, banyak juga ilmu yang dibagi. Di interview saya kali ini, tentu banyak juga keseruan dan ilmu yang dibagikan si Abang dan sekarang mau saya bagi ke kalian semua.

Halo Bang Christian, selamat ya atas terbitnya buku baru Abang, Marry Now, Sorry Later. Saya udah selesai baca dan--seperti biasa--terkagum-kagum dengan quotes yang "jleb", termasuk di judul bab. Misalnya aja nih, di Marry Now, Sorry Later ada yang judulnya: "Diamku Saja Sudah Sulit Kau Pahami. Bagaimana Ceritanya Aku Bisa Yakin Kau Akan Mengerti Sepatah Kata Pun Ucapanku?". Itu dapat inspirasi dari mana sih Bang?
Saat kita menulis, sedikit-banyak juga larut di dalam karakter yang sedang kita ceritakan. Perasaan mereka itulah yang menginspirasi quote-quote di dalam novel. Dan kalau ternyata pembaca menganggap itu ‘menusuk hati’, kemungkinan besar karena quote-quote tersebut meningkatkan kepekaan terhadap perasaan para karakter dan konflik yang sedang mereka hadapi.
Aku suka baca novel romance yang, walau jalan ceritanya sebenarnya standaaaart banget, tapi di tengahnya ada detail yang bikin aku menikmati pas bacanya. Lebih seru kalo aku bisa terkaget-kaget baca percakapan atau cara berpikir tokoh-tokohnya yang out of the box. And your novels have it. Dapet dari mana sih topik-topik percakapan atau bahasan yang seru kayak gitu?
Saat merancang karakter, kamu juga sudah harus tahu apa yang mereka suka, apa yang mereka benci, ambisi, ketakutan dalam hidup, dan sebagainya. Topik-topik yang muncul dari percakapan nggak jauh-jauh dari hidup karakternya. Jadi sebenarnya, bukan Abang yang ‘nemu’ topik-topik itu, melainkan karakter-karakter novel Abang.

Oooh jadi serasa tokoh-tokoh novel itu beneran hidup ya, Bang? Duuuh... Kalo gitu Jao Lee yang beneran tuh di mana ya? Aku mau dooong satu.. Hehehe...

Lanjut, Baaang... (Lha, berasa di angkot???) Sudah memantapkan diri di genre Adult Romance atau ada rencana merambah genre lain? Historical Romance versi Indonesia mungkin (soalnya kan Abang suka baca Historical Romance tuh..)?
Ada rencana, tapi nggak tahu kapan. Karena pindah genre nggak sesederhana yang dipikirkan orang-orang. Pindah genre berarti bertemu dengan kelompok pembaca berbeda dengan yang digarap selama ini. Artinya, harus mengganti gaya menulis, juga harus mematuhi aturan-aturan dasar di genre tersebut. Makanya butuh persiapan banyak. Historical romance rasa Indonesia? Yang seperti apa nih? Historical romance seperti Lisa Kleypas dan Johanna Lindsey atau yang sealiran dengan Philippa Gregory dan Anne Easter Smith nih? Meskipun satu payung, gaya penulisannya berbeda banget lho!
Aku sih sukanya yang model-model Lisa Kleypas dan Johanna Lindsey gitu, Bang. Yang ringan dan menghibur aja, nggak usah berat-berat. Aku sih ngebayanginnya kalau historical romance itu settingnya yang tahun 1900-an ke atas, Semacam cerita tuan-tuan Belanda, orang Indo, dengan pribumi. Ada dansa-dansa, liburan ke Bogor, dll. Kayaknya romantis.
Kebanyakan novel percintaan klasik Indonesia berujung tragis. Apalagi kalau cerita tentang pribumi yang jatuh cinta dengan orang Belanda, ckckck banget pokoknya. Makanya, alih-alih termotivasi, Abang malah hilang selera. Mungkin kalau kamu punya referensi novel romance klasik Indonesia yang nggak tragis akhirnya, Abang bisa berubah pandangan tentang yang satu ini.
Yah elah si Abang mah bacanya Siti Nurbaya melulu sih, jelas aja tragis (kalau kamu sudah baca Marry Now, Sorry Later, pasti ngerti deh maksud saya). Kan ada Sengsara Membawa Nikmat buat contoh cerita klasik yang happy ending (duh si Miduun.. Midun,.. Jadi kebayang Sandy Nayoan jaman muda). Kalau untuk terbitan zaman sekarang, aku belum nemu sih yang setipe sama HisRom luar negeri. Tapi kalau Historical Fiction dalam negeri yang oke, aku menyarankan Abang baca serial De Winst - Afifah Afra sama De Harmonie - Yanti Soeparmo.


Selanjutnya, penting buat dibaca para penulis dan calon penulis nih: Bang, sebagai penulis, Abang pasti sering terima kritik dong. Ada yang sifatnya membangun dan memberi masukan, tapi ada juga yang kasar dan murni cuma mencela. Bagi-bagi tips dong bagaimana menghadapi kritik dan bagaimana memilih mana kritik yang sebaiknya diikuti dan mana yang dianggap angin lalu saja.
Ini yang diajarkan editor Abang dulu: selain kritik yang menyerang hal-hal di luar konten buku, reaksi yang paling benar adalah nggak melakukan apa-apa. Alasannya adalah, kritik maupun pujian adalah hak sepenuhnya pembaca. Setelah memutuskan naskahmu akan terbit, secara nggak langsung kamu sudah merelakan karyamu jadi milik publik. Setelah proses itu, tak ada yang bisa kamu lakukan. Lagi pula, berdasarkan pengalaman Abang pribadi, nggak perlu menunggu komentar pembaca kok untuk mendapatkan kritik. Sebagai penulis pun, kita sudah mengkritik diri kita sendiri terlalu banyak. Belum lagi dapat dari editor. Jadi, apakah dalam proses kreatif penulis, pembaca akan pernah dilibatkan? Tentu saja. Pembaca membantu penulis membentuk branding penulis sejak awal. Bukan kritik, melainkan masukan untuk buku-buku di masa mendatang. Makanya, nggak jarang para penulis melibatkan pembacanya dalam diskusi atau pertanyaan-pertanyaan ringan di social media masing-masing. Itulah yang kemudian jadi ‘modal’ si penulis untuk memperbaiki diri.
Wah, ternyata masukan dari pembaca sangat berarti untuk penulis ya. Tuh teman-teman, jangan ragu kalau mau kasih masukan ke penulis. Dan buat teman-teman penulis atau calon penulis, jangan takut terima kritik, Manfaatkan aja kritik yang kamu terima sebagai masukan untuk karyamu berikutnya.

Terakhir nih, Bang. Terkait penggunaan nama pena sehingga pembaca akan fokus ke karya pengarang ketimbang pribadi pengarang. Menurut Abang, penting gak sih pengarang menunjukkan identitas mereka dan juga melakukan promosi buku baik secara offline maupun online di akun-akun media sosial mereka? Atau biarkan karya saja yang berbicara?
Keputusan untuk memakai nama sendiri atau nama pena murni adalah hak preogratif penulis. Nggak ada jaminan juga memakai nama asli akan bestseller dan yang memakai nama pena nggak akan terkenal. Ini lebih terkait pada kenyamanan penulis pada perubahan perhatian publik dan imbas ketenaran karena karya yang ditulisnya. Pada akhirnya, semua tergantung pada branding. Penulis yang memutuskan memakai nama aslinya harus memastikan pencitraan dirinya nggak menciderai karya-karya tulisannya. Misalnya, penulis novel religius sebaiknya menghindari sikap tak pantas/tak sopan. Sedangkan untuk kasus penulis bernama pena, sejak awal memutuskan untuk melakukan itu, dia harus menyiapkan diri dengan crisis management untuk hal-hal yang nggak dia inginkan: identitas aslinya ketahuan atau profesinya bertentangan dengan tema tulisannya (misalnya, guru yang ketahuan jati dirinya sebagai penulis erotica). Yang mana pun pilihan si penulis, sudah bukan zamannya lagi hanya mengandalkan karyanya saja yang ‘berbicara.’ Pada akhirnya, si penulis tetap harus melakukan sesuatu untuk membuat publik memerhatikan karyanya.

Nah, itulah hasil interview saya dengan Abang Christian Simamora. Seru kan? Banget pastinya. Kalau mau diskusi atau tanya-tanya lebih lanjut tentang karya-karya Christian Simamora atau tentang menulis, bisa langsung hubungi di:

Fanpage (Facebook): www.facebook.com/ChristianSimamoraAuthor 
Twitter: @09061983 
E-mail: ino_innocent@yahoo.com

Setelah ini, di jam 12 siang akan ada review buku Marry Now, Sorry Later. Silakan baca buat kamu-kamu yang masih penasaran buku ini tentang apa. Dan di jam 3 sore, akan ada posting giveaway berhadiah 1 buah buku Marry Now, Sorry Later. Silakan diikuti. Mungkin kamu yang beruntung.

Kalau kamu kebetulan baca pos ini tapi masih nggak ngeh apa itu Marry Now, Sorry Later, saya kasih gambar cover sama sinopsisnya ya:


"BERSEDIAKAH SAUDARA MENGASIHI DAN MENGHORMATI ISTRI SAUDARA SEPANJANG HIDUP?"
Sejak awal Jao Lee sudah tahu, Reina tak mencintainya. Namun, menikah dengan putri satu-satunya direktur Hardiansyah Electronics itu memberi ilusi cukup bahwa Jao memilikinya. Salah besar. Reina justru melakukan sesuatu yang tak pernah Jao duga selama ini: kabur sebelum acara resepsi dimulai.

"ADAKAH SAUDARI MERESMIKAN PERKAWINAN INI SUNGGUH DENGAN IKHLAS HATI?" 
Setelah enam bulan bersembunyi, akhirnya Jao berhasil menemukan Reina. Seperti dugaannya, suaminya itu memaksanya pulang bersama ke Jakarta. Memangnya apa yang dia harapkan? Semacam membuka lembaran baru dan hidup bersama sebagai suami-istri sungguhan? 

"SAYA BERJANJI SETIA KEPADANYA DALAM UNTUNG DAN MALANG, DAN SAYA MAU MENCINTAI DAN MENGHORMATINYA SEUMUR HIDUP." 
Ini cerita cinta tentang dua orang yang tak saling cinta, tapi bertahan untuk tetap bersama. Sampai kapan mereka akan terus berusaha? Perlukah mereka jatuh cinta dulu supaya bisa bahagia? 

Selamat jatuh cinta, 

CHRISTIAN SIMAMORA


Sampai bertemu lagi nanti siang!!

17 comments:

  1. wah,quotes nya keren,jadi pengen tau quotes-quotes lainnya.

    ReplyDelete
  2. ternyata pindah genre itu bukan hal yang mudah ya, kirain kalo udah jadi penulis mau membuat tulisan dengan tema apapun itu cuma tinggal nentuin tema, nge-riset terus jadi deh karyanya :D

    ReplyDelete
  3. bagus lo novel"nya saya tertarik dg sinopsisnya

    ReplyDelete
  4. "Selain kritik yang menyerang hal-hal di luar konten buku, reaksi yang paling benar adalah nggak melakukan apa-apa."

    Belajar sesuatu dari kata-kata Bang Christian. Terkadang penulis itu bakal jadi sibuk rempong sendiri kalau mau nurutin kata semua pembaca, karena pembaca punya selera masing-masing. Kita gak bisa memaksa semua orang yang beraneka ragam buat suka sama tulisan kita. They have their own taste. Like it so much!!

    Menginspirasi sekali bang!!

    ReplyDelete
  5. Setelah memutuskan naskahmu akan terbit, secara nggak langsung kamu sudah merelakan karyamu jadi milik publik.

    Setuju banget tuh, Bang.

    Iya yah, baru sadar kalo HisRom Indonesia kebanyakan sad ending. :3

    ReplyDelete
  6. Wah terima kasih sudah share2 hasil interview kakak, saya jadi dapat info-info baru dan wawasan yang bermanfaat soal menjadi penulis (ehem, amiin... hehe)... sukses selalu kak ;))

    ReplyDelete
  7. Bakal aku catet nih bang Ino wejangannya untuk calon penulis dan penggunaan nama asli dan pena. Biar tetep inget nanti kalo udah bisa jadi penulis beneran Hehehee

    ReplyDelete
  8. "Pada akhirnya, si penulis tetap harus melakukan sesuatu untuk membuat publik memerhatikan karyanya."

    Saya suka deh dengan kalimat Abang Ino ini. Saya setuju sekali kalo penulis jangan cuma seneng karena karyanya diterbitkan. Justru setelah karya terbit itulah penulis bersaing dengan penulis lain di pasaran. Penerbit kan berinvetasi banyak sama karya mereka. Jadi mereka harus pinter-pinter dengan strategi penjualan masing-masing. :)

    ReplyDelete
  9. Ini yang paling disuka, cara mengolah karakter di novel-novelnya Bang Christian Simamora ini,bener2 detail jadi pembaca tidak meraba2 karakter novel ini sukanya kayak apa ya??benci nya sama apa??dsb, karena terkadang ada penulis yang lebih fokus sama setting novel tanpa memperhatikan lebih detail terhadap tokoh dalam novel itu sendiri, Tapi kalo Bang Christian Simamora bener2 pas lah semuanya dari karakter,setting,penokohan,alur cerita.

    ReplyDelete
  10. abang Christian Sugiono (eh Simamora maksud aku wkwkw) berencana pindah genre?!?!? wah jadi pengen nanya kalo abang pindah genre j-boyfriend bakal tamat apa nggak T_T Apakabar surga kalau j-boyfriend tamat :( apa jangan-jangan vimana singles series ternyata bukan adult romance? aduhh bikin penasaran aja abangnya

    ReplyDelete
  11. Emang quote di novel ini kena banget, bikin makin greget pgn baca novelnya. Semoga kali ini aku menang giveaway nya biar keturutan baca novel kece ini

    ReplyDelete
  12. sudah kelihatan sih say gimana serunya bang ino dari penampilannya yang nyentrik hiihihi :D

    ReplyDelete
  13. Wao (?), ini adalah wawantjara yang dalam sekali meski kadang diselingi dengan kegurihan yang nada kriuknya enak untuk didengar (?) #apasih

    *merenung di bagian nama asli dan nama pena*

    ReplyDelete
  14. Selamat ya Bang Ino untuk peluncuran bukunya :) Kalau untuk mencari referensi latar tempat seperti hotel, apartement biasanya Bang Ino dapat saran dari mana? apa survei langsung atau sekedar cari-cari di internet aja?

    ReplyDelete
  15. Wah keren banget Bang quote-quotenya. Favoritku itu sih kalo biasanya beli novel, pasti cari yang quotable. Soalnya pasti suka aku buat status #eh hahaha xD. Terus biasanya pasti aku baca berulang-ulang kali ga bosen kalo novel itu penuh sama quote yang kereeen :D.

    Eh btw nih Bang, jadi sebagai penulis, terutama yang masih pemula, harus siap ya bang dengan semua kritikan orang-orang? Hmm baiklah, harus nyiapin mental sekuat baja hihi xD.

    Sukses terus yang Bang, semoga makin banyak lagi karya yang dihasilkan :)).

    ReplyDelete
  16. duh pas baca bagian nama asli sama nama pena itu yang bikin aku merenung hehe. pengin jadi penulis juga tapi kalau pakai nama asli takutnya gak menjual. nama asliku biasaaaa banget :')

    ReplyDelete

What is your thought?