Sunday, March 29, 2015

Bingkai Memori



Pengarang: Petronela Putri
Penerbit: Grasindo
Tahun Terbit: 2014
Halaman: 209

Setelah ayahnya meninggal dunia, Mei menemukan sebuah buku harian berwarna hitam milik sang Ayah. Betapa Mei kaget ketika mengetahui bahwa sebelum bertemu ibunya, ayahnya telah jatuh cinta dengan wanita lain bernama Lie. Sayang, kisah cinta itu harus terhenti karena larangan orangtua ayah Mei. Ayah Mei lalu dikirim sekolah ke luar negeri dan kisah cinta ayah Mei dengan Lie berakhir. Ayah Mei dijodohkan dengan ibu Mei, dan memiliki dua anak, Mei dan Wendy. Selain buku harian, juga terdapat selembar foto seorang wanita yang mengenakan kalung giok: Lie.

Mei lalu memutuskan untuk pergi ke Padang, tempat asal ayahnya, untuk menelusuri kisah cinta ayahnya dengan Lie. Mencari Lie tidak semudah bayangan Mei. Petunjuk alamat tidak berguna karena Lie sudah lama pindah. Beruntung Mei bertemu dengan Malvin, pemilik kafe di Jakarta yang dulu pernah diwawancarai Mei dan kini sedang pulang kampung ke Padang, yang bersedia membantunya. Bersama Malvin, Mei mencari keberadaan Lie kini. Berhasilkah Mei menemui Lie?



*******

Seberapa kenalkah kita dengan orangtua kita? 

Mungkin itu pertanyaan utama yang Pengarang coba lemparkan kepada pembaca melalui novel ini. Sangat menarik, karena biasanya, seorang anak tidak terlalu tahu atau tidak peduli dengan masa lalu orangtuanya atau rahasia apa yang disimpan mereka. Buat seorang anak, hidup orangtua dimulai sejak kita lahir. Jarang kita berpikir bahwa sebelum ayah dan ibu kita bertemu dan menikah, bisa saja mereka sudah berpacaran berkali-kali dengan beberapa pria atau wanita, atau memiliki kisah hidup yang lebih seru dari kisah hidup kita. Sama halnya dengan Mei, yang baru mengetahui masa lalu ayahnya setelah ayahnya meninggal dan Mei menemukan buku harian sang Ayah.

Dengan tema yang diangkat, Bingkai Memori menjanjikan kisah yang menarik diikuti. Dan di separuh awal cerita, sejujurnya saya sangat tersedot ke dalamnya. Cara Pengarang menggambarkan suasana gloomy hati Mei yang harus kehilangan orang yang paling dekat dengannya, lalu rasa kecewa, shock, dan juga penasaran yang melanda Mei setelah menemukan dan membaca buku harian ayahnya, menurut saya sangat baik. Karakter-karakter novel ini dibuat sederhana, dekat dengan kehidupan sehari-hari, namun juga kuat, terutama Mei. Mei digambarkan sebagai wanita yang introvert, namun juga berpendirian kuat. Di beberapa bagian, ia tampak tegas dan galak, namun ketika mengingat kembali sosok ayahnya, ia menjadi rapuh dan kesepian. Ketika Mei akhirnya berangkat ke Padang untuk mencari sosok Lie, saya sudah mengantisipasi kisah pencarian yang penuh liku-liku dan rahasia yang sedikit demi sedikit akan terungkap.

Sayangnya, separuh ke belakang terasa melempem buat saya. Kehadiran Malvin dalam hidup Mei terasa seperti mengalihkan plot, dari yang tadinya tidak tertebak menjadi sebaliknya: tertebak banget! Saya tidak bisa bicara lebih jauh tanpa membocorkan seluruh cerita, namun yang pasti ending-nya buat saya jadi antiklimaks banget. Saya tidak tahu alasan Pengarang dalam memutuskan kalau ceritanya akan menjadi seperti itu saja, apakah memang ide awalnya seperti itu atau karena ada tuntutan dari penerbit, misalnya agar novelnya tidak terlalu tebal. Seandainya Pengarang mau mengeksplor lebih jauh potensi konflik yang sudah sangat menjanjikan tersebut...

Untungnya, gaya menulis Pengarang cukup asyik diikuti. Deskripsi tempat dan karakterisasi para tokohnya cukup baik. Seperti sudah saya bilang sebelumnya, di paruh awal cerita, saya sangat bisa merasakan duka Mei. Selain itu, tokoh-tokoh lainnya juga berhasil dihidupkan Pengarang dengan baik dan berkarakter, terutama Prima, kekasih Mei.

Sebagai penutup, novel ini dapat menjadi bacaan pilihan di saat santai. Temanya bagus, dan mungkin selera kamu beda dengan saya sehingga kamu bakal suka sepenuhnya dengan ceritanya.


No comments:

Post a Comment

What is your thought?