Showing posts with label Young Adult. Show all posts
Showing posts with label Young Adult. Show all posts

Friday, April 7, 2017

Magic Banana

Pengarang: Ninna Lestari
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 2016
Halaman: 261

Alfa berubah setelah saudari kembarnya, Alfi, meninggal dunia. Dulu, Alfi merupakan penyeimbang hidup Alfa dan menjadi teman setianya melalui segala kesulitan yang menimpa keluarga mereka. Kini, tanpa Alfi, Alfa berubah menjadi pemberontak dan berkepribadian dingin. Ia menjaga jarak terhadap sahabat-sahabatnya, terutama Misha yang diam-diam mencintainya. Sampai suatu hari, Alfa berkenalan dengan Banana, adik kelasnya yang unik.

Banana mengingatkan Alfa akan sosok Alfi. Gadis pencinta warna kuning dan selalu membawa pisang itu selalu rusuh dan menarik untuk digoda, tapi tak pernah takut mengungkapkan pikirannya. Maka, Alfa pun selalu mengerjai Banana. Semakin Banana melawan, semakin Alfa tak mau melepaskannya.

Awalnya, Banana merasa sedang tertimpa sial karena kehadiran Alfa dan hanya berpikir untuk membalas semua keisengan Alfa sampai cowok itu jera. Namun kemudian, ia mulai mengenal sisi lain Alfa dan kesedihan yang menimpa kakak kelasnya itu. Bukan hanya karena kehilangan saudari kembarnya, tapi juga tragedi yang menimpa keluarganya. Banana ingin menolong, tapi Alfa malah menarik diri darinya. Haruskah Banana membiarkan Alfa, atau menolongnya?

Monday, November 14, 2016

Blog Tour: Origamiara + Giveaway Winner!!


Aiara Nadya Noer atau Ara adalah mahasiswa semester 3 jurusan Matematika. Ia memang menyukai matematika, namun bukan itu alasan terkuatnya memilih jurusan Matematika. Ara memilih jurusan matematika karena di sana ada Fardio Tama alias Dio, tetangga sekaligus seniornya yang pintar, yang Ara percaya akan dapat mengajari Ara semua pelajaran yang susah. Ara diam-diam menyukai Dio dan suka mengirimkan origami yang ditulisi puisi untuk Dio secara anonim. Ara juga berniat mengikuti semua langkah Dio, termasuk konsentrasi Kombinatorika yang diambil cowok itu. Sayangnya, Dio adalah tipikal cowok yang kaku, pendiam, dan tak suka diganggu cewek ribut macam Ara.

Andai kamu tahu
Mimpiku menyamakan langkah denganmu
Berjalan beriring, seiring,
juga menjadi pendamping
Bukan bergerak masing-masing

Rasa sebal Dio akan Ara bukannya tanpa alasan. Dia tahu kalau Ara menyukainya, hanya saja Dio melihat Ara terlalu manja dan hidupnya terlalu tergantung orang lain--dalam hal ini Dio. Ara hanya mengikuti jejak Dio tanpa memikirkan minat dan kemampuannya sendiri. Ara juga sering gagal fokus dan lebih suka melipat origami atau mewarnai buku catatannya ketimbang mengerjakan soal. Padahal, kuliah bukanlah main-main. Pilihan kita di masa kuliah menentukan masa depan kita dalam bekerja. Maka, ketika di satu kesempatan Ara menanyakan tipe perempuan ideal Dio, Dio sengaja menyebutkan segala hal yang bukan Ara: cerdas, bisa menempatkan diri dalam bersikap, berprinsip, sopan, mandiri, peduli, dan nggak cengeng.

Rasaku padamu seperti pagi tanpa hujan
Terang, bersinar
Sampai tak sadar pada tidurku
yang belum selesai
Lelap aku terlalu lelap
Samar antara terang dan gelap
Mana nyata, mana mimpi
Mana harapan, mana ilusi
Aku tak mengerti

Ara lalu mulai tertimpa masalah dengan perkuliahannya. Nilai kuliahnya mulai berjatuhan. Ara merasa ia sudah jungkir balik belajar, namun daya tangkapnya tidak seperti teman-temannya yang lain. Ia meminta bantuan pada Dio tapi sia-sia karena Dio sudah kapok mengajari Ara. Malah Fardian atau Ian, adik Dio sekaligus teman seangkatan Ara, yang membantunya. Ian berbeda dari Dio. Si bungsu ini lebih terbuka dan humoris, dan juga berani bicara blak-blakan kepada Ara. Diam-diam, ia menyukai Ara. Namun sayang, Ara tidak pernah memandangnya lebih dari sekadar teman. Di otak Ara hanya ada Dio, Dio, dan Dio.

Bagaimana kisah Ara selanjutnya? Apakah ia berhasil mengikuti jejak Dio? Bagaimana dengan Dio dan Ian, akankah mereka menjadi saingan?


Saturday, August 20, 2016

A untuk Amanda

Pengarang: Annisa Ihsani
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 2016
Halaman: 266
Format: e-book (beli di Scoop)

Sejak dulu, Amanda terkenal sebagai anak berotak encer. Prestasinya selalu memuaskan dan ia bahkan berhasil mendapatkan keringanan finansial di sekolah berkat riwayat akademisnya. Murid-murid lain menjulukinya "Hermione". Amanda selalu bersungguh-sungguh dalam belajar sampai-sampai tidak punya waktu untuk bersosialisasi. Buatnya, nilai yang sempurna adalah sesuatu yang wajib diraihnya.

Satu-satunya orang yang membuat Amanda masih bisa memiliki kehidupan sosial adalah Tommy, sahabat sekaligus tetangganya sejak dulu. Tommy juga berotak encer, namun ia lebih supel dan dapat menyeimbangkan waktu untuk belajar dengan bergaul.

Hidup Amanda tadinya sempurna, dengan masa depan cerah membentang di depannya. Apalagi setelah akhirnya ia berpacaran dengan Tommy, yang selalu menghadirkan momen-momen manis dalam hidupnya. Namun, sesuatu terjadi. Amanda mulai merasa kalau ia sebenarnya tidak pandai dan kemampuannya sebenarnya hanyalah keberuntungan. Ia mulai mempertanyakan banyak hal tentang dirinya dan kehilangan kepercayaan dirinya. Ia pun kemudian menjadi enggan bangkit dari tempat tidur dan beraktivitas karena tak bisa menghentikan pikiran yang berkecamuk di otaknya dan melelahkannya secara mental.

Amanda depresi.

Namun, mungkinkah seseorang yang begitu sempurna seperti Amanda merasakan depresi? Berhakkah orang seperti Amanda merasakan depresi?


Thursday, July 21, 2016

Buku Lawas - Canting Cantiq


Pengarang: Dyan Nuranindya
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 2009
Halaman: 200
Dapat di rak Bookswap Festival Pembaca Indonesia 2015


Melanie Adiwijoyo terbiasa dengan kehidupan mewah. Sekolahnya elit, pakaiannya selalu fashionable dan mahal. Cita-citanya menjadi model di Paris. Namun, semuanya berubah ketika perusahaan papa Mel terkena masalah dan papa Mel meninggal dunia. Mel kini yatim piatu, sebab ibunya juga sudah lama meninggal dunia. Mel lalu dititipkan ke Jogja, ke rumah Eyang Santoso.

"Oh... kalian pikir gue seneng tinggal sama kalian? Nggak! Gue terpaksa! Kalian itu bukan keluarga gue. Bukan siapa-siapa gue. Dan kalian nggak tau apa-apa tentang gue. Paling kalian cuma sekumpulan orang kampung miskin yang terlalu banyak mimpi dan nggak berpendidikan!"

"Dasar cewek sombong! Elo tuh nggak pantes ngomong nggak sopan kayak gitu di depan Eyang Santoso. Di Jakarta pasti elo nggak punya temen, kan? Manja, nggak bisa apa-apa, bisanya cuma nyusahin orang lain. Otak lo itu paling nggak lebih dari sekadar belanja, salon, ngeceng. Dasar! Udah lulus SMA, tapi kelakuan masih kayak ABG!"

Di rumah Eyang Santoso yang juga rumah kos dengan nama SODA124, hidup Mel berubah 180 derajat. Selain penghuni kosan yang ajaib dan tidak berkelas, Mel juga harus mengurus segala kebutuhannya sendiri. Mel marah, apalagi setelah salah seorang anak kos yang berpenampilan ngasal, Ipank, menghardiknya keras dan menuduhnya manja. Mel serasa pindah ke neraka; masa depannya hancur sudah.

Namun, apakah benar semuanya seburuk yang Mel duga? Benarkah Jogja mengandaskan impian Mel?

Monday, June 6, 2016

[Blog Tour] Truly Love - Apa Pun selain Hujan - Winner!!


Halo teman-teman!!

Siapa yang sudah menunggu pemenang buku Apa Pun selain Hujan??

Sebelumnya saya mau mengucapkan terima kasih atas partisipasi teman-teman dalam giveaway di blog ini dan tentunya rangkaian blog tour Truly Love. Sebagai host dari blog tour Apa Pun selain Hujan, saya sih jujur bilang kalau buku ini memang nggak boleh kamu lewatkan banget, sehingga, kalau kamu nggak menang di blog tour ini, sebaiknya kamu tetap beli dan baca ceritanya ya. Hehe :)

Dan sekarang... inilah pemenang yang sudah saya pilih.

Cute Girl alias @DhilaPFd alias Putri Fadhila

Jawabannya mencerminkan banget kecintaannya pada kegiatan pramuka, yang memang lebih dari sekadar ekskul di sekolah ya. Jawaban Putri Fadhila ini mengingatkan saya dengan papa saya yang juga cinta banget dengan kegiatan kepanduan dan sampai sekarang masih suka reuni dengan teman-teman pandunya di Semarang.


Selamat buat Putri Fadhila. Silakan mengirimkan data nama penerima paket, alamat (dan kode pos) serta nomor telepon yang bisa dihubungi untuk keperluan pengiriman paket hadiah ke martina.s.daruli@gmail.com subjek Pemenang Apa Pun selain Hujan.

Buat yang lain, sayang ya saya nggak bisa menangin semuanya. Tapi seperti saya bilang tadi, kamu harus tetap baca Apa Pun selain Hujan ya.

Sampai bertemu di postingan selanjutnya!!



Tuesday, May 31, 2016

[BlogTour] Truly Love - Apa Pun selain Hujan

Pengarang: Orizuka
Penerbit: Gagasmedia
Tahun Terbit: 2016
Halaman: 287
Suara rintik yang menimpa genting membuat Wira membuka mata. Ia menatap nyalang langit-langit berwarna gading yang menjadi tameng antara dirinya dengan hujan. Dengan segera, ia kembali memejamkan mata, lalu menutupinya dengan punggung tangan.

Sering kali, Wira berharap bisa tinggal di suatu tempat di mana hujan tidak pernah turun.

Wirawan Gunadi pindah ke Malang dengan sebuah trauma. Sembilan bulan sebelum pindah ke rumah neneknya dan berkuliah Teknik Sipil di Universitas Brawijaya, ia membunuh sahabatnya. Faiz meninggal di arena pertandingan taekwondo setelah tendangan Wira bersarang di kepala Faiz. Saat itu, hujan turun lebat dan itu adalah kali terakhir Wira melihat sahabatnya.

Wira menutup diri; ia merasa tidak pantas berteman dengan siapa pun lagi. Ia selalu menolak ajakan bermain futsal oleh teman-temannya. Ia juga melupakan taekwondo. Namun demikian, ketika ia bertemu Kayla dan secara tak sengaja malah mengurus anak kucing bersama, masa lalunya yang kelam yang sudah ia kubur dalam-dalam kembali menuntut untuk muncul kembali ke permukaan. Kayla adalah taekwondoin, dan tempat merawat Sarang, si anak kucing, adalah di markas UKM taekwondo Universitas Brawijaya. Kayla, yang tahu bahwa Wira juga seorang taekwondoin, mengajak Wira untuk berlatih kembali, bahkan setelah Kayla akhirnya mengetahui masa lalu Wira. Namun, bisakah Wira kembali ke olahraga yang sangat dicintainya itu dan mewujudkan impiannya sejak dulu, meski tahu bahwa Faiz, sahabatnya, telah kehilangan impian yang sama? 

Mungkin, seharusnya, Wira tidak pernah menyambut uluran tangan itu. Atau mungkin, seharusnya, Wira tidak pernah berusaha melupakan Faiz. Sahabatnya itu tidak punya salah yang membuatnya harus dilupakan. Wira seharusnya mengingatnya, mengingat bagaimana sahabatnya itu tidak bisa lagi berdiri di matras ini sepertinya, mengingat kalau dirinyalah yang membuatnya begitu.

Monday, May 23, 2016

On the Fence


Author: Kasie West
Publisher: HarperTeen
Year Published: 2014
Pages: 296


For sixteen-year-old Charlotte Reynolds, aka Charlie, being raised by a single dad and three older brothers has its perks. She can outrun, outscore, and outwit every boy she knows—including her longtime neighbor and honorary fourth brother, Braden. But when it comes to being a girl, Charlie doesn't know the first thing about anything. So when she starts working at chichi boutique to pay off a speeding ticket, she finds herself in a strange new world of makeup, lacy skirts, and BeDazzlers. Even stranger, she's spending time with a boy who has never seen her tear it up in a pickup game.

To cope with the stress of faking her way through this new reality, Charlie seeks late-night refuge in her backyard, talking out her problems with Braden by the fence that separates them. But their Fence Chats can't solve Charlie's biggest problem: she's falling for Braden. Hard. She knows what it means to go for the win, but if spilling her secret means losing him for good, the stakes just got too high.

Friday, May 20, 2016

Being Sloane Jacobs


Author: Lauren Morrill
Publisher: Ember (randomhouseteens.com)
Year published: 2014
Pages: 330


Meet Sloane Emily Jacobs: a seriously stressed-out figure-skater from Washington, D.C., who choked during junior nationals and isn’t sure she’s ready for a comeback. What she does know is that she’d give anything to escape the mass of misery that is her life.

Now meet Sloane Devon Jacobs, a spunky ice hockey player from Philly who’s been suspended from her team for too many aggressive hip checks. Her punishment? Hockey camp, now, when she’s playing the worst she’s ever played. If she messes up? Her life will be over.

When the two Sloanes meet by chance in Montreal and decide to trade places for the summer, each girl thinks she’s the lucky one: no strangers to judge or laugh at Sloane Emily, no scouts expecting Sloane Devon to be a hero. But it didn’t occur to Sloane E. that while avoiding sequins and axels she might meet a hockey hottie—and Sloane D. never expected to run into a familiar (and very good-looking) face from home. It’s not long before the Sloanes discover that convincing people you’re someone else might be more difficult than being yourself.


Tuesday, April 19, 2016

Saint Anything


Author: Sarah Dessen
Publisher: Penguin Random House UK
Year Published: 2015
Pages: 417

Sydney had always been the least priority in her family. Her big brother, Peyton, had always gotten their parents' attention. Peyton, who was more cheerful, active, and later caught in never ending troubles which made him had to go to jail. Sidney, the one who was always calm, smart, and obedient, never made a scene in their family, thus, her parents didn't feel the need to look after Sydney.

I was used to being invisible. People rarely saw me, and if they did, they never looked close. I wasn’t shiny and charming like my brother, stunning and graceful like my mother, or smart and dynamic like my friends. That’s the thing, though. You always think you want to be noticed. Until you are. 

After all Peyton's problems--which left so many questions to her and her family, Sydney had to move school. Not only because she wanted to stay away from people who had already known Peyton's problem but also because of financial matter. There, at her new school, she met the Chathams: Layla, Mac, and their mother. With the Chathams, Sydney felt "visible". The Chathams were very warm and really saw her as herself, unlike her parents.

“As I shut the door and started to walk away, I heard him say, "Hey. Sydney."
"Yeah?"
"You had on a shirt with mushrooms on it, and your hair was pulled back. Silver earrings. Pepperoni slice. No lollipop."
I just looked at him, confused. Layla was walking toward us now.
"The first time you came into Seaside," he said. "You weren't invisible, not to me. Just so you know.” 

One thing that Sydney wanted was to meet the boy whom Peyton hit, to really know him and to say sorry. But her mother became very protective toward Peyton and thought that that was a very bad idea. And finally, after so long being invisible, Sydney finally became visible to her mother; not as the good girl Sydney but the problem child Sydney. And finally, Sydney realized what had made Peyton change: their parents.

Friday, March 4, 2016

See You Again


Pengarang: Arini Putri
Penerbit: Gagasmedia
Tahun Terbit: 2015
Halaman: 349

Semua bermula dari sebuah novel grafis yang ditemukan Bagas di toko buku. Novel grafis itu berisi kisah yang mirip dengan kisah masa SMA-nya di kelas XII Bahasa, kelas buangan yang terletak di bawah tangga. Ternyata, novel grafis itu adalah buatan Dani, teman sekelas Bagas yang selalu duduk di belakang dan pendiam namun diam-diam selalu mengamati dan merekam keseharian teman-teman sekelasnya. Dani membukukan kisah anak-anak kelas XII Bahasa karena ia berharap suatu hari, kisah mereka akan dapat diselesaikan.

Angkatan Bagas adalah angkatan terakhir kelas XII Bahasa. Berisi murid-murid yang dicap sebagai anak-anak buangan--karena tidak bisa masuk IPA dan IPS, kelas ini sebenarnya penuh dengan remaja normal dengan segala problema dan dinamikanya. Ada Bagas dan Sharon yang berotak encer dan sebenarnya bisa masuk ke jurusan IPA atau IPS tapi memilih masuk Bahasa. Ada pula Angin, si pemalas yang selalu tidur di kelas tapi entah kenapa sangat dipercaya Sharon untuk mengkritik cerita tulisannya. Lalu ada Dito dan Nira yang ceria dan diam-diam saling menyukai. Belum lagi kelompok G5 yang terkesan badung tapi ternyata anti rokok. Tak mau ketinggalan, ada pula Bu Fitri, sang wali kelas yang selalu optimis dan percaya murid-muridnya akan bisa menjadi orang-orang yang berguna di masa depan.

Lalu mengapa Kelas XII Bahasa bisa ditutup? Hal apa yang terjadi di penghujung tahun terakhir SMA Bagas dan kawan-kawannya sehingga membuat Dani merasa kalau bertahun-tahun kemudian kisah itu butuh penutup?

Friday, February 5, 2016

Syarat Jatuh Cinta

Pengarang: Marin Josi & Purba Sitorus
Penerbit: Gagasmedia
Tahun Terbit: 2012
Halaman: 237

Alana jatuh cinta pada Asta ketika keduanya bertemu di bimbingan belajar untuk masuk SMA. Asta menolong Alana dalam kondisi paling memalukan. Sejak itu, Alana selalu memandang Asta seperti pangeran berkuda putih; Asta yang tampan dan baik hati. Sayang, kemudian Asta menghilang. Alana, yang mengetahui SMA tujuan Asta adalah SMA Harapan, SMA-nya anak-anak pintar, segera menggenjot otaknya dan akhirnya berhasil masuk SMA itu.

Asta mengangkat dagunya. "Saya, Adiasta Puji Pratama menolak Alana karena saya suka perempuan cantik. Saya suka perempuan dengan rambut panjang, tubuh ideal dan terawat. Semua mantan saya catik, nggak ada yang gendut. Jadi, Alana, dengan berat hati, saya katakan kamu bukan tipe saya. Saya nggak suka berat badan yang berlebihan. Jelas?" Asta melengos. Alana terpaku diam.

Benar, di sana Alana bertemu Asta lagi. Namun bukan Asta seperti yang Alana kenal. Asta yang ini playboy, kurang ajar, dan menghina bobot tubuh Alana di depan umum. Alana memang bertubuh besar. Maka, dengan geram, Alana malah mengajak Asta taruhan. Alana akan bisa menjadi langsing dan berambut panjang dalam waktu 3 bulan dan Asta akan mengungkapkan cintanya pada Alana untuk Alana kemudian tolak.

Taruhan yang bodoh, tapi keburu terucap dan disepakati. Maka Alana menggunakan waktu tiga bulannya untuk berdiet, dibantu berbagai tips yang dikumpulkan Fio, sahabatnya. Diet tidak semudah yang Alana bayangkan sebelumnya, apalagi karena Asta juga melancarkan tipu muslihatnya untuk menggagalkan Alana. Bagaimana akhir pertaruhan Alana dan Asta?

Tuesday, December 8, 2015

Jesse's Girl

Author: Miranda Kenneally
Publisher: Sourcebooks Fire
Year Published: 2015
Page: 291

Every year, Maya Henry's school, Hundred Oaks, has this Career Shadow Day, where every senior has to "shadow" a professional for a day as the way to help them to figure out what kind of career they want in the future. Maya wants to be a musician, and she had already expected to work in the electronic section at Walmart--because Career Shadow Day is usually that lame. So, she was very surprised when she was given task to shadow a famous teen country singer, Jesse Scott, and an opportunity to meet him on his concert. First, she hadn't expected that her headmaster would be that serious about her dream. Second, he also happens to be Jesse's uncle. Third, she has never liked country; she's more into Queen and other 80's rock bands.

At the beginning, Jesse was a jerk toward Maya as he thought Maya was one of his groupies. But on that one day Career Shadow Day, when Maya and Jesse had to spend a day together to get Maya know how the life of musician is like, everything changed. Jesse was interested in knowing more about Maya and her passion in music and Maya found out more about the real Jesse that most of people don't know: his insecurity and his love to his family. Jesse understood Maya's dream and pushed her to be brave to go solo.

Will Maya be able to reach her dream? And will there be a chance for love to grow between Maya and Jesse?

Monday, November 2, 2015

The Chapel Wars

Author: Lindsey Leavitt
Publisher: Bloomsbury
Year Published: 2014
Pages: 294


Lenore: A $500 savings bond
James: A leather bomber jacket
Mom: An antique writing desk
Secretary Donna: An heirloom watch
Minister Dan: Grandpa's saxophone
Dad: Grandpa's decked-out golf cart

"Finally, I leave my granddaughter, Holly Evelyn Nolan, pause for dramatic effect." The lawyer furrowed his brow and read the line again to himself. "Oh, sorry. I think he was telling me to pause. Okay, I leave my granddaughter, Holly Evelyn Nolan"--this time he did pause, and it was clear he'd been in a courthouse once or twice and knew his pauses--"the Rose of Sharon Wedding Chapel. This place is all yours, Holly Bean. Now, keep me in business."

16-year-old Holly was her grandfather's favorite granddaughter. But nothing can surprise her more than receiving a wedding chapel in Las Vegas from her late grandfather. Not to mention that it was almost broke. Running a wedding business is definitely not a teenager's business. But because her beloved grandfather has told her so, Holly has no other choice than to find a way to keep the business running.

Along with the testament is a letter Holly must deliver to Dax Cranston, a grandson of Holly's grandfather's nemesis, Victor Cranston, who is the owner of Cupid's Dream, a wedding chapel located next to Rose of Sharon--the chapels even share the parking lot! Victor definitely wants Rose of Sharon to be closed down, so Holly doesn't understand why her grandfather wanted her to meet and give the letter to Cranston's grandson. But Dax is not like his grandfather... and suddenly Dax is everywhere in Holly's life. 

Fallen in love with the enemy is absolutely not a choice to be taken. But Holly can't resist Dax's cuteness and his presence around her. In this Romeo and Juliet Wedding Chapel War's version, will there be a happy ending for Holly... and Dax?

Wednesday, October 28, 2015

How to Say I Love You Out Loud


Author: Karole Cozzo
Publisher: Swoon Reads
Year Published: 2015
Pages: 217

Jordyn Michaelson has never been the center of attention in her family; it has always been her younger brother, Phillip, who is autistic. Not that Jordyn envies Phillip. In fact, she really loves her brother. It's just that sometimes, being together with Phillip is too much to handle.

In her old school, everybody knew Jordyn as Phillip's older sister and there were times when the kids were very mean to her because of that. Now, in her new school, when finally she's able to go to different school with Phillip, Jordyn finally gets what she has always wanted: being known as herself. She's never talked to anyone about her brother, including to Alex, her crush who is also her boy friend.

It was last year's summer when Jordyn and Alex became close and finally shared a romantic kiss. But the fact that Jordyn has a secret, pulled her from him. After that, they decided that they would be nothing more but friends--which is quite nice until... Alex suddenly hooks up with the school's most popular and the bitchiest girl, Leighton, and makes Jordyn suffers. And what makes her suffer more is the fact that the special school Phillips has been attended to is closing and now, Phillip has to temporary go to Jordyn's high school until the government finds the new place for him. Jordyn is afraid that people at school would find out who Phillip is and destroy Jordyn's life as before. Counting the days until Phillip finally moves to his new school, Jordyn tries hard to cover the fact about her family.

Sunday, October 11, 2015

More than Words


Pengarang: Stephanie Zen
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: 2015
Halaman: 221

Rania tinggal di Singapura berkat beasiswa. Jika tidak mendapatkan beasiswa, keluarganya tak akan mampu membiayai kuliahnya. Bahkan, dengan beasiswa pun untuk membiayai biaya hidup Rania, keluarganya di Indonesia harus berhemat. Berbeda dengan Marvel, teman sepelayanan gereja Rania, God's Love. Marvel yang diam-diam dicintai Rania lahir di tengah keluarga berada. Ia bisa memiliki mobil BMW walau memiliki mobil di Singapura termasuk hal yang langka. Rumahnya pun besar. Karena minder, Rania hanya bisa menyimpan perasaannya kepada Marvel rapat-rapat.

Marvel mencintai Rania. Buat Marvel, berada di dekat gadis itu sangat menyenangkan. Mereka bisa nyambung ngobrol urusan apa saja. Tapi, ketika Marvel mengungkapkan perasaannya, Rania malah menganggapnya tidak sungguh-sungguh, bahkan marah. Marvel ingin menunjukkan kesungguhan hatinya, tapi terbentur masalah bahwa sebentar lagi ia harus pergi jauh dari Rania.

Words mean nothing, 
unless the person who speaks it... is your everything.

Dengan balutan suasana pergaulan remaja-remaja Kristiani di tengah kota Singapura, bagaimana kisah cinta Rania dan Marvel selanjutnya?

Monday, August 3, 2015

Paper Towns

Author: John Green
Publisher: Speak
Year Published: 2008
Pages: 305


Quentin Jacobsen--or Q--had been obsessed with his popular classmate and neighbor, Margo Roth Spiegelman, since his childhood. The beautiful and unique Margo. But just like the other unpopular students, Quentin couldn't reach Margo so that he just liked to look at her from his bedroom window. One day, Margo appeared in Q's room, and asked Q to join her one night adventure. Together, they had to fulfill 11 missions, from breaking into their classmate's house to breaking into the Sea World. It was such an unforgettable night for Quentin so that he thought that starting that night, his relationship with Margo would change. But what came the next day surprised him.

That night, I lay on my side, staring out the window into the invisible world outside. I kept trying to fall asleep, but then my eyes would dart open, just to check. I couldn't help but hope that Margo Roth Spiegelman would return to my window and drag my tired ass through one more night I'd never forget. 

Margo had left her house. And it's not the first time. Her parents had lost their patient and decided not to care. However, Margo was already 18, which is considered as adult. They thought Margo was just looking for attention as usual, since on her last departure, she had left some clues--which her parents decided to ignore--and came back by herself after being ignored. But Quentin couldn't stay quiet. He really felt that this time, Margo was serious and maybe she had planned something horrible to herself.

Quentin then searched for the clues Margo had left. With the help of his two best friends, Ben and Radar, Quentin searched and analyzed Margo. What he found later, made him realize that maybe, the true Margo Roth Spiegelman was not like what he had imagined before.

Here's what's not beautiful about it: from here, you can't see the rust or the cracked paint or whatever, but you can tell what the place really is. You can see how fake it all is. It's not even hard enough to be made out of plastic. It's a paper town. I mean, look at it, Q: look at all those culs-de-sac, those streets that turn in on themselves, all the houses that were built to fall apart. All those paper people living in their paper houses, burning the future to stay warm. All the paper kids drinking beer some bum bought for them at the paper convenience store. Everyone demented with the mania of owning things. All the things paper-thin and paper-frail. And all the people, too. I've lived here for eighteen years and I have never once in my life come across anyone who cares about anything that matters.

Thursday, July 30, 2015

Blog Tour + Giveaway : Heartling

Pengarang: Indah Hanaco
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 2015
Halaman: 252

Amara pernah mengalami hal yang sangat buruk dari sahabat laki-lakinya, Marcello; pengalaman yang membuat Amara harus pergi mengasingkan diri selama setahun. Sejak itu, Amara yang ceria berubah menjadi tertutup dan ketus.

Kembali ke kampus, Amara berteman dengan Sophie. Sebenarnya, Amara tidak ingin berteman, namun Sophie yang supel--yang aslinya merupakan juniornya--selalu mendekatinya. Sophie merasakan keanehan sikap Amara, namun berkat kepribadian Sophie yang supel dan terbuka, Sophie tahan-tahan saja menghabiskan waktu bersama Amara. Kedekatan Amara dengan Sophie membuat Amara perlahan-lahan menjadi lebih terbuka, sehingga kemudian, Amara juga kembali berteman dengan sahabat lamanya, Brisha. Kini, Amara, Sophie, dan Brisha menjadi tiga sekawan yang sangat dekat, walau Amara masih menutupi masalah kepergiannya selama setahun.

Walau hidupnya berangsur normal kembali, Amara masih tetap ketakutan bila didekati laki-laki. Sampai suatu hari, ia berkenalan dengan laki-laki keturunan Korea dari fakultas sebelah bernama Ji Hwan. Perkenalan mereka dimulai dengan buruk, namun Ji Hwan cukup sabar untuk mengerti Amara. Mereka pun akhirnya berpacaran. Namun, pengalaman buruk Amara selalu menghantui. Bisakah Amara mendapatkan kebahagiaannya kembali? Bagaimana jika tiba-tiba Marcello datang kembali?


Tuesday, June 9, 2015

Bitter Winner


Pengarang: Mita Miranti
Penerbit: Gagasmedia
Tahun terbit: 2015
Halaman: 246

Audrina sudah lama hidup dalam ketidakbahagiaan. Dulu, Papa memisahkannya dari Mama dan adik perempuannya, Milana. Dari Makassar, Audrina dibawa ke Jakarta. Kini, Papa menikah lagi dengan Ibu, yang tidak pernah menyayangi Audrina dan hanya memanfaatkannya untuk membantu menghias cake jualannya. Papa sendiri tidak peduli lagi dengan Audri. Satu-satunya peninggalan Mama yang Audri punya hanyalah selembar foto tua bergambar Mama, Audri, dan Milana. Audri berharap suatu hari bisa bertemu kembali dengan Mama dan adiknya.

Audri yang kreatif namun tertutup lalu menyalurkan hobi dan kreatifitasnya melalui scrapbooking. Bakatnya menarik minat Tante Rosa, pemilik toko sekaligus tempat kursus scrapbook, Scrappy Corner. Audrina lalu dijadikan pengajar di sana. Audri senang menghabiskan waktu dengan Tante Rosa yang ia anggap seperti ibunya sendiri.

Suatu hari, Scrappy Corner mengadakan lomba scrapbooking. Betapa kaget Audri ketika mendapati salah satu pesertanya mengirimkan scrapbook berfoto sama dengan foto milik Audri. Terlebih lagi, pengirimnya beralamat di Makassar, walau bernama Andhita M. Audri mendapatkan firasat kuat bahwa itu adalah adiknya--M adalah singkatan dari Milana.

Audri lalu memutuskan pergi ke Makassar mencari Mama dan Milana berbekal alamat pengirim scrapbook tersebut dan sedikit kenangan akan kota Makassar. Berhasilkah Audri menemui Mama dan Milana?

Sunday, June 7, 2015

This Song Will Save Your Life

Author: Leila Sales
Publisher: Farrar, Strous, and Giroux
Year Published: 2013
Pages: 279

I didn't really want to die. I never had. All I ever wanted was attention.

Elise Debowski had never been popular. In fact, nobody cared about her at school. No matter how hard she had tried to change herself, to follow the trend, no one wanted to be he friend. Even after she tried to cut her hand and made one of her classmates, Amelia Kindl, called 911 and saved her life--at least Amelia thought so.

Seven months later, her suicidal attempt led her to full supervision of her divorced parents. Elise must stay alternately at her mom's and her dad's house every week. However, they still didn't know what actually made Elise cut her hand. There was also no change at school except now Elise had two social-climber friends, Sally and Chava, whom she'd never understand the reason why they wanted to befriend her.

"It's Start!" Vicky replied. Her normal speaking voice was loud enough that she didn't even have to try to project over the music. "The greatest underground dance party in the world!"

Every midnight, Elise had this habit of walking around the neighborhood alone. Until one day, she met Vicky and Pippa, and an underground dance club called Start. Suddenly, Elise found a place which would accept her as she was. The DJ, Char, recognized her talent and gave Elise opportunity to become a DJ. Suddenly, Elise got the life and popularity she had been wanting to have. But how long would it last until she had to go back to her real life? What if her new life was not as beautiful as it seemed?

Saturday, May 23, 2015

Truth or Dare


Pengarang: Winna Efendi dan Yoana Dianika
Penerbit: Gagasmedia
Tahun terbit: 2012
Halaman: 302

Alice dan Catherine--atau Al dan Cat--adalah sepasang sahabat bertolak belakang sifat. Al adalah seorang anak pendiam, terlihat rapuh, dan selalu menjadi objek bullying di sekolahnya. Cat sebaliknya; berpendirian kuat dan tidak peduli penilaian orang, selalu melindungi Al. Mereka berjanji akan selalu bersama dan di waktu senggang hobi bermain Truth or Dare, di mana Al pasti memilih Truth dan Cat Dare.

Suatu hari, persahabatan mereka bertambah dengan hadirnya seorang siswa pertukaran pelajar dari Indonesia, Julian Danuwijaya. Dengan cepat, Al dan Cat menjadi akrab dengan Julian yang jago sulap, supel, dan entah mengapa mengerti cara menghadapi baik Al maupun Cat secara pribadi. Tanpa disadari, tumbuh perasaan suka kepada Julian dalam hati Al dan Cat.

Akankah Julian menyukai salah satu dari mereka dan memilih salah satu dari mereka? Apakah itu lebih penting dibanding menjaga persahabatan Al dan Cat yang terancam rusak selamanya?