Showing posts with label Sastra. Show all posts
Showing posts with label Sastra. Show all posts

Sunday, February 1, 2015

Singgah


Pengarang: Jia Effendie, Taufan Gio, Alvin Agastia Zirtaf, Yuska Vonita, Adellia Rosa, Dian Harigelita, Anggun Prameswari, Aditia Yudis, Bernard Batubara, Putra Perdana, Artasya Sudirman
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 2012
Halaman: 229


Singgah adalah buku kumpulan cerpen keroyokan yang terdiri dari 13 cerita yang ditulis oleh 11 penulis--ada 2 penulis yang menulis masing-masing 2 cerita. Ketiga belas cerita memiliki garis besar tema yang sama, yaitu persinggahan. Oleh karenanya, terminal, bandara, pelabuhan, stasiun pun menjadi latar cerita.

Jantung karya Jia Effendie, si cerita pembuka, mengambil latar sebuah stasiun dengan tokoh utama membaca ice box berisi jantung. Jantung siapa yang dibawanya? Itu yang membuat penasaran. Sayang, terus terang saya tidak mengerti inti ceritanya apa. Terlalu penuh kiasan, saya kira, untuk ukuran selera dan daya tangkap otak saya.

Kisah kedua, Dermaga Semesta karya Taufan Gio, menghadirkan cerita yang manis sekaligus pahit mengenai kenangan. Saya suka sekali cerita ini dan menurut saya, mengambil foto tempat-tempat yang kita kunjungi untuk kemudian mengunjungi kembali tempat itu suatu hari merupakan ide yang menarik. Mungkin akan saya coba kalau saya jalan-jalan berikutnya.

Menunggu Dini karya Alvin Agastia Zirtaf sebenarnya agak-agak tertebak ending-nya oleh saya. Pertemuan random antara seorang muda dengan seorang tua yang berakhir dengan nostalgia kisah cinta si Orang Tua dengan kekasihnya, Dini.

Moksha karya Yuska Vonita menjadi cerita favorit saya di buku ini. Kisah tentang pencarian jati diri dan pencerahan dengan cara melakukan perjalanan spiritual ke India. Kental budaya India dan nilai-nilai Hindu. Betapa saya berharap kisah ini hanyalah potongan dari sebuah novel, karena saya ingin membaca lanjutan kisahnya.

Kemenangan Apuk karya Bernard Batubara langsung mengingatkan saya pada kumpulan cerpen Jatuh Cinta adalah Cara Terbaik untuk Bunuh Diri yang beberapa waktu lalu saya book-tour-kan di blog ini. Thanks to Meriam Beranak. Saya suka cara penulis menghidupkan cara berpikir seorang anak dan juga suasana lokal di daerah tersebut. Sayang, di bagian akhir, cerita seperti dipaksakan untuk habis lebih cepat. Seandainya ditambah beberapa paragraf lagi...

Langit di Atas Hujan karya Dian Harigelita, menurut saya, lebih banyak bermain di percakapan antara kedua tokohnya ketimbang jalan ceritanya sendiri. Dan terus terang, saya tidak merasa tertarik untuk mengikuti percakapan mereka.

Tuesday, December 30, 2014

Jatuh Cinta adalah Cara Terbaik untuk Bunuh Diri


Pengarang: Bernard Batubara
Penerbit: Gagasmedia
Tahun terbit: 2014
Halaman: 293


Hamidah Tak Boleh Keluar Rumah
"Aku tak ingin menjadi cantik, Ibu."

Nyanyian Kuntilanak
"Mengapa kau berbuat begini kepadaku? Aku hanya ingin menyapa dan mendekatimu. Sultan, oh, Sultan...."

Seorang Perempuan di Loftus Road
Aku hanya satu dari ratusan batang pohon yang berdiri dengan tabah di sepanjang Loftus Road yang dingin. Menunggu seseorang yang tak pernah datang.

Hujan Sudah Berhenti
Aku menulis surat kepada angkasa untuk bicara dengan Papa. Seandainya Mama mengetahui hal itu, mungkin dia akan menyuruhku berhenti duduk di dekat jendela.

Bayi di Tepi Sungai Kayu Are
Astaga, Yuni membatin, tampak oleh matanya sosok seperti bayi. Benarkah itu bayi?

Seribu Matahari untuk Ariyani
Aku menggambar satu matahari selama seribu hari. Matahari kecil pada hari pertama. Matahari besar di hari keseribu. Ariyani adalah matahari....

Langkahan
Mariani juga tak bisa sepenuhnya mengerti, mengapa persoalan langkahan ini jadi sedemikian penting baginya.

Meriam Beranak
Sebelum menjadi sebatang meriam, dahulu ia adalah seorang perempuan.

Lukisan Nyai Ontosoroh
Mimpi buruk itu terjadi sejak pada suatu tengah malam aku berdiri di hadapan lukisan itu, memandanginya lekat-lekat, dan tiba-tiba sepasang mata Nyai Ontosoroh berkedip kepadaku.

Bayang-bayang Masa Lalu
Bagi Ainun, 690 tahun tak ada artinya, bahkan ia masih mampu untuk menunggu seribu tahun lagi, demi Subairi.

Orang yang Paling Mencintaimu
Tahukah engkau apa yang kusuka dari Miranda? Ia orangnya begitu bersih dan rajin membakar sampah, seperti Ibu.

Nyctophilia
"Kau memang gila."
"Kapankah cinta tidak membuatmu gila, Jamelia?"

Bulu Mata Seorang Perempuan
"Jatuh cintalah. Kamu pasti akan dapat banyak ide."
"Mustahil. Jatuh cinta malah bikin kepala seseorang semakin buntu."

Menjelang Kematian Mustafa
Anak mafia! Anak mafia! Kata mereka. Anak haram! Anak haram! Kata yang lain.

Jatuh Cinta adalah Cara Terbaik untuk Bunuh Diri
Aku tidak bersepakat dengan banyak hal, kau tahu. Kecuali, kalau kau bilang bahwa jatuh cinta adalah cara terbaik untuk bunuh diri. Untuk hal itu, aku setuju.