Sunday, October 11, 2015

More than Words


Pengarang: Stephanie Zen
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: 2015
Halaman: 221

Rania tinggal di Singapura berkat beasiswa. Jika tidak mendapatkan beasiswa, keluarganya tak akan mampu membiayai kuliahnya. Bahkan, dengan beasiswa pun untuk membiayai biaya hidup Rania, keluarganya di Indonesia harus berhemat. Berbeda dengan Marvel, teman sepelayanan gereja Rania, God's Love. Marvel yang diam-diam dicintai Rania lahir di tengah keluarga berada. Ia bisa memiliki mobil BMW walau memiliki mobil di Singapura termasuk hal yang langka. Rumahnya pun besar. Karena minder, Rania hanya bisa menyimpan perasaannya kepada Marvel rapat-rapat.

Marvel mencintai Rania. Buat Marvel, berada di dekat gadis itu sangat menyenangkan. Mereka bisa nyambung ngobrol urusan apa saja. Tapi, ketika Marvel mengungkapkan perasaannya, Rania malah menganggapnya tidak sungguh-sungguh, bahkan marah. Marvel ingin menunjukkan kesungguhan hatinya, tapi terbentur masalah bahwa sebentar lagi ia harus pergi jauh dari Rania.

Words mean nothing, 
unless the person who speaks it... is your everything.

Dengan balutan suasana pergaulan remaja-remaja Kristiani di tengah kota Singapura, bagaimana kisah cinta Rania dan Marvel selanjutnya?

Saya sebenarnya nggak menyangka bahwa More than Words termasuk kategori Chrom alias Christian Romance alias cerita romance berbalut nuansa Kristiani. Habisnya, di cover depan novel hanya ada label Metropop (yang saya nggak ngerti kenapa ada label ini mengingat tokoh-tokohnya masih kuliah dan gaya hidupnya pun tidak sophisticated selayaknya tokoh-tokoh novel metropop, dan seharusnya masuk kategori Young Adult versi Gramedia). Baru ketika saya perhatikan lebih jauh, ada tulisan Chrom di pojok kanan belakang cover yang sangaaaattt tipis. Weleh!

tulisan "ChRom"-nya terbaca nggak?

Bukannya saya anti membaca novel berbalut agama tertentu sih, saya tidak keberatan kok. Apalagi, Kristen memang agama saya. Malah beberapa kali saya juga membaca kisah romance bernuansa Islami dan saya cukup menyukainya. Hanya saja, saya merasa terkecoh dan jadi salah memasang ekspektasi :)

Kisah More than Words sendiri bisa dibilang sangat sederhana. Tidak ada konflik yang membuat pembaca penasaran atau deg-degan banget. Sungguh seperti kisah cinta remaja sehari-hari. Kedua tokoh utama, dan orang-orang di sekeliling mereka, adalah orang-orang biasa yang menjalani hidup sebaik mungkin menurut ajaran agama Kristen. Setiap masalah dibawa ke dalam doa dan merujuk ke ayat Alkitab--which is good actually, tapi karena konfliknya kurang berat, akhirnya ya kurang greget untuk ukuran novel (menurut selera saya) dan malah terkesan membesar-besarkan masalah yang sebenarnya tidak besar-besar amat. Setelah baca, detailnya begitu mudah terlupakan. Marvel dan Rania, keduanya tidak meninggalkan kesan mendalam untuk saya.

Pendapat saya setelah membaca buku ini: sebagai bacaan Chrom, tentu More than Words merupakan pilihan bacaan yang baik. Buku ini mengajarkan pembacanya untuk mengikutsertakan Tuhan dalam setiap keputusan yang akan kita ambil, sesederhana apa pun itu. Segala sesuatu tidak pernah main-main karena apa yang kita lakukan sekarang dapat membawa akibat yang cukup panjang di masa depan. Tapi, sebagai bacaan secara umum, kisahnya kurang "menggigit". 

Dan saran untuk penerbit, jika di masa depan masih akan mengeluarkan buku bergenre Chrom (atau agama apa pun) sebaiknya labelnya ditaruh di depan dengan jelas dan tidak perlu menambahkan label lain yang mencerminkan genre cerita seperti "metropop" atau "amore" karena membuat bingung pembaca. Kasihan juga pembaca beragama lain yang sebenarnya tidak ingin membaca novel bernuansa Kristiani jika sampai salah mengambil buku bacaan. Label terkait kategori umur seperti "dewasa" atau "young adult" mungkin bisa ditambahkan untuk menunjukkan target usia pembaca.

No comments:

Post a Comment

What is your thought?