Pengarang: Ifa Inziati
Penerbit: Bentang Belia
Tahun Terbit: 2014
Halaman: 228
Namanya Simoncelli. Bukan, bukan pebalap MotoGP yang meninggal di Sepang Malaysia itu. Simoncelli ini adalah nama mesin espresso yang menghuni sudut KopiKasep, sebuah kedai kopi sederhana di kota Bandung. Sahabatnya adalah Candu, barista terhebat menurut Simoncelli, yang jago meracik kopi dan selalu mengajak Simoncelli mengobrol--tentu secara searah, karena Candu tidak bisa mendengar respon Simoncelli. Lewat mata Simoncelli, keseharian KopiKasep diceritakan.
Di KopiKasep, semua menjalani pekerjaan dengan hati gembira. Ada Candu, si barista penuh percaya diri yang menggabungkan passion-nya dengan ilmu Fisika yang didapatnya hasil kuliah di ITB; ada Satrya, si kalem ahli latte art; ada Winona, si pelayan cerewet; Sery yang pendiam dan selalu memerhatikan Candu; terakhir Nino, si admin sosial media.
"Saya lebih baik punya semangat daripada bakat." Respons Candu cepat.Suatu hari, Rohan muncul di KopiKasep. Keponakan Teh Cheryl, Q-Grader yang juga teman baik pemilik KopiKasep, yang masih SMA tapi memiliki otak genius. Rohan bisa melihat warna dalam kata, membuatnya mampu menghapal apa pun dengan cepat. Namun, sikapnya sinis dan selalu menantang orang untuk berdebat. Dan kali ini, lawan yang dipilihnya adalah Candu.
"Well, kalau begitu...," Rohan lalu melipat tangannya di atas meja, tatapannya ke arah Candu mendadak pekat, "mau tidak, tukar semangat Anda dengan bakat saya?"
Rohan tidak bisa menikmati apa pun. Semua dalam hidupnya dipandangnya sebagai kewajiban. Ia belajar fisika karena ia bisa menghapal rumusnya dengan cepat. Candu sebaliknya; lelaki itu percaya pada passion, bahwa dengan kemauan maka kita akan bisa menghasilkan yang terbaik.
Kehadiran Rohan membuat dinamika KopiKasep berubah. Lama kelamaan, Candu menjadi dekat dengan Rohan walau interaksi mereka kebanyakan diisi dengan debat. Sampai tibalah lomba Nusantara Barista Tournament atau NBT, lomba yang Candu yakin akan dimenanginya tahun ini. Sebuah kecelakaan terjadi dan sejak itu, keadaan KopiKasep tidak akan pernah sama lagi. Rohan menghilang, Candu menyendu. Bagaimana nasib KopiKasep selanjutnya?
