Showing posts with label Historical Romance. Show all posts
Showing posts with label Historical Romance. Show all posts

Wednesday, June 3, 2020

Mr Cavendish, I Presume



Pengarang: Julia Quinn
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 2008 (asli), cet 4 2019 (terjemahan bahasa Indonesia)
Halaman: 392

Novel ini sebenarnya adalah kisah paralel dari novel The Lost Duke of Wyndham, yang bercerita tentang Jack Audley, seorang perampok bekas tentara Inggris yang ternyata merupakan ahli waris gelar Duke of Wyndham, dan Grace Eversleigh, pendamping Dowager Duchess of Wyndham. The Lost Duke of Wyndham sudah pernah saya baca di aplikasi IJak tapi karena ceritanya tidak begitu berkesan, maka saya tidak begitu mengingatnya dan hampir melupakan Mr Cavendish, I Presume kalau saja saya tidak mendapatkan voucher ulang tahun dari Gramedia yang hampir kedaluwarsa yang harus saya belanjakan saat itu juga. Dan untung saya membeli novel ini karena saya sangat menyukainya!

Seperti saya bilang sebelumnya, kisah dalam novel ini paralel dengan kisah pada The Lost Duke of Wyndham, namun mengambil sudut pandang Amelia Willoughby, gadis yang telah ditunangkan dengan Duke of Wyndham saat itu, Thomas Cavendish, sejak masih balita. Amelia adalah putri kedua dari Earl of Crowland dan tidak memiliki saudara pria--yang berarti gelar Crowland akan habis di tangan ayahnya. Amelia dan saudari-saudarinya harus menikahi bangsawan ternama dan kaya raya untuk kesejahteraan hidup mereka dan tentu saja, Amelia sangat beruntung. Thomas adalah satu-satunya ahli waris Wyndham yang tersisa, sangat tampan dan kaya raya. Sayangnya, Thomas sangat dingin dan tidak pernah memandang Amelia lebih dari sekadar sopan-santun. Padahal usia Amelia telah menginjak 21 tahun dan siap menikah.

Thomas selalu sibuk mengurus tanahnya. Ia adalah tuan tanah yang bertanggung jawab dan dihormati. Namun sejarah buruk pernikahan kedua orang tuanya membuatnya malas memikirkan pernikahan, sampai di suatu malam pesta dansa, Amelia yang sebelumnya hanya ia anggap sebagai tanggung jawab yang kelak harus ia ambil alih, menunjukkan sisi menariknya dan Thomas mulai berpikir bahwa mungkin menikahi Amelia bukanlah sesuatu yang buruk.

Tiba-tiba suatu insiden perampokan terjadi dan neneknya, sang Dowager, malah meyakini si perampok, Jack Audley, sebagai cucunya dari anak keduanya, John, yang meninggal karena tenggelam di Irlandia. Jack kemudian datang ke Belgrave, kediaman Duke of Wyndham, dan melihat sendiri kemiripan dirinya dengan lukisan mendiang John Cavendish. Ia tinggal membuktikan bahwa pernikahan John Cavendish dan ibunya yang orang Irlandia dilangsungkan secara sah, maka gelar Duke of Wyndham akan berpindah dari tangan Thomas kepadanya, karena Thomas adalah anak dari adik John Cavendish. Jack, yang menyukai kebebasan, menolak mentah-mentah gelar tersebut, tapi Thomas yang berintegritas tidak bisa terus memegang gelar tersebut jika memang bukan miliknya. Namun demikian, kegalauan di hati Thomas tidak terelakkan. Wyndham adalah gelar yang dimilikinya sejak lama, dia yang merawat seluruh harta Wyndham dengan segenap hati dan pikirannya. Kehilangan Wyndham berarti kehilangan jati dirinya.

Sehabis mabuk-mabukan, tanpa disangka Thomas bertemu lagi dengan Amelia dan wanita yang tidak pernah dipandangnya walau sebelah mata itu secara mengejutkan malah mengurusnya tanpa merasa takut. Ia malah langsung akrab dengan teman kecil Thomas yang memiliki ramuan penghilang mabuk sekaligus pemilik penginapan yang biasanya tidak akan dikunjungi seorang bangsawan, Harry Gladdish. Thomas melihat sisi lain Amelia dan jatuh cinta padanya. Namun, Amelia dijodohkan dengan Duke of Wyndham, bukan Thomas Cavendish. Apakah ini berarti Amelia harus ia relakan juga kepada Jack Audley? Bagaimana hidup Thomas selanjutnya?


Saturday, January 11, 2014

Educating Caroline (Pelajaran Cinta untuk Caroline)

Pengarang: Patricia Cabot
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 2013
Halaman: 603

Lady Caroline Linford tidak sengaja memergoki tunangannya, Hurst Slater atau Marquis of Winchilsea, sedang bermesraan dengan Lady Jacqueline Seldon, tunangan seorang pengusaha kaya raya tanpa gelar, Braden Granville, di salah satu ruang duduk Dame Ashforth, si penyelenggara pesta. Namun ketika sedang bingung memikirkan langkah apa yang sebaiknya ia ambil menghadapi situasi ini, tiba-tiba Braden Granville muncul menanyakan kepada Caroline di mana tunangannya. Caroline ingin sekali menunjuk Hurst dan Jacqueline yang tengah asyik mesra di balik pintu, namun ia takut Braden akan segera menembak Hurst karena Braden, yang dibesarkan di lingkungan yang keras dan berbisnis senjata api, sudah pasti merupakan pria yang kasar dan jago menembak. Akibatnya, Caroline malah melindungi Hurst dan Jacqueline.

Sesampainya di rumah, Caroline memutuskan untuk membatalkan pernikahannya dengan Hurst. Namun hal itu dicegah oleh ibu Caroline, yang berpendapat bahwa pembatalan pernikahan hanya akan merugikan Caroline dan berakibat tidak akan ada pria lain yang akan melamarnya. Selain itu, akan terkesan pula bahwa keluarga Linford tidak tahu diri karena biar bagaimanapun, Hurst Slater telah menolong adik Caroline, Thomas atau Earl of Bartlett, dari luka tembak yang didapatnya saat terjadi perampokan di Oxford. Keluarga Caroline berhutang nyawa kepada Hurst. Bagaimana mungkin Caroline bisa membatalkan pernikahan? Sebaliknya, ibu Caroline malah menyarankan Caroline agar bisa lebih piawai menarik hati Hurst.

Termakan usul ibunya, Caroline yang polos dan lugu mencoba mencari tahu apa yang bisa ia lakukan untuk menarik perhatian Hurst agar bisa menjauh dari Lady Jacqueline. Ia bertanya pada Lady Emmy, sahabatnya yang aktivis kesetaraan gender, dan adiknya, Thomas. Sayang, ia tidak mendapatkan jawaban yang ia cari. Akal gila Caroline lalu membawanya ke Braden Granville, yang memang terkenal sebagai penakluk wanita dengan julukan Perayu Paling Ulung di Seantero London, dan juga tunangan Jacqueline.

Braden Granville awalnya berpikir kalau Caroline gila dan mengusir wanita itu begitu Caroline mengaku mengetahui dengan siapa Lady Jacqueline menyeleweng dan bersedia bersaksi di pengadilan apabila Braden memutuskan pertunangan dan Lady Jacqueline menggugat pelanggaran janji di pengadilan dengan imbalan pelajaran cinta dari Braden. Namun kemudian, saat usaha Braden membuntuti lelaki misterius Jacqueline tidak kunjung berhasil bahkan malah mengorbankan kaki teman dekatnya, Weasel, Braden terpaksa menyetujui permintaan Caroline. Maka dimulailah pelajaran cinta Caroline oleh Braden.

Caroline adalah sosok wanita yang berbeda dari Jacqueline. Ia tidak seksi, ia tidak genit. Kulitnya cokelat karena keseringan berada di luar ruangan, dan ia gila kuda. Namun Braden tidak bisa melupakan Caroline. Caroline pun demikian. Semakin ia mengenal Braden, semakin Caroline berpikir bahwa apa yang dirasakannya terhadap Hurst selama ini bukanlah cinta. Hurst memang lebih tampan dan berdarah bangsawan dibanding Braden, namun hanya di dekat Braden jantung Caroline melompat-lompat tak karuan.

Sementara itu, Thomas ternyata menyimpan rahasianya sendiri. Luka tembak yang hampir membuatnya kehilangan nyawa bukanlah disebabkan oleh perampokan, melainkan karena ia ditembak oleh bandar judi bernama The Duke setelah ia menuduh orang itu mencurangi kartunya. Dan saat itu, Hurst ada bersama-sama Thomas. Kini, The Duke kembali mengejar Thomas untuk menghabisinya. Thomas harus meminta bantuan kalau tidak ingin nyawanya benar-benar melayang.

Apakah akhirnya perselingkuhan Hurst-Jacqueline akan terbongkar? Apakah Braden, si Perayu Paling Ulung di Seantero London benar-benar tulus mencintai Caroline? Bagaimana nasib Thomas?