Pengarang: Windry Ramadhina
Penerbit: Gagasmedia
Tahun terbit: 2012
Halaman: 301
Mahoni adalah seorang arsitek idealis pecinta Frank O. Gehry yang sudah empat tahun bermukim di Virginia, Amerika Serikat. Ia pindah ke Amerika Serikat meninggalkan banyak persoalan di negara asalnya, Indonesia. Suatu hari, sebuah telepon mengharuskannya kembali ke tanah airnya itu sekaligus menghadapi masa lalunya.
Maaf, Mahoni. Kabar duka.
Aku diberi tahu bahwa tidak berapa lama yang lalu, Papa dan Grace mengalami kecelakaan. Di tengah hujan lebat negeri tropis yang butir-butir airnya sebesar biji jagung, mobil mereka terglincir ketika melintasi jalan tol penghubung Jakarta-Bandung. Mereka terbawa keluar jalur melanggar pagar beton pembatas jalan yang berada di sisi kiri mereka, lalu jatuh sedalam delapan meter.
Ayah Mahoni beserta ibu tirinya meninggal dunia.
Di Jakarta, Mahoni dihadapkan pada kenyataan pahit lain: ia harus tinggal di Jakarta bersama adik tirinya, Sigi, yang masih SMA, karena tidak ada anggota keluarga lain yang bisa menjaga Sigi. Mahoni sebenarnya tidak ingin berurusan dengan Sigi, yang adalah anak Grace, orang yang selama ini dibenci Mahoni. Mae, ibu Mahoni, selalu membenci Grace dan memastikan bahwa rasa benci itu juga merasuk ke dalam diri Mahoni. Namun, Mahoni tidak memiliki pilihan lain. Ia terpaksa mengorbankan pekerjaannya di Virginia demi Sigi, adik yang bahkan tidak ingin diakuinya sebagai adik.
Gambar itu, sketsa pradesain restoran dalam guratan tanpa putus yang spontan, dibuat di atas selembar kertas putih kekuningan menggunakan pensil warna tanah liat. Itu konte sanguine, aku kenal betul. Warna cokelatnya yang kemerahan teramat khas, tidak ada pensil lain yang memiliki warna serupa. Dan, gaya sketsa yang luar biasa intuitif itu mengingatkan aku kepada seseorang, seseorang yang selalu menggambar dengan konte sanguine.
Sebuah restoran mempertemukan Mahoni dengan orang lain dari masa lalunya: Simon Marganda, si arsitek pendesain restoran. Melalui Sofia, rekan Simon, Mahoni pun diajak bergabung untuk bekerja bersama Simon dan Sofia di MOSS, studio milik mereka berdua. Mahoni, yang mengetahui kegeniusan Simon, tidak melewatkan kesempatan ini. Lagi pula toh ia tidak punya pekerjaan di Jakarta.
Bekerja bersama Simon menantang kreativitas Mahoni dan juga idealismenya. Simon dan Mahoni sama-sama keras dan sama-sama berbakat. Namun, bukan hanya itu, kebersamaannya dengan Simon juga menghadirkan kembali kisah masa lalu yang pernah terjalin antara Simon dan Mahoni. Sayang, kini Simon telah bersama Sofia. Selain itu, masalah keluarga juga semakin membelit Mahoni. Ibunya, Mae, datang dan marah besar ketika mengetahui Mahoni kini tinggal bersama anak dari Grace, perempuan yang paling dibencinya.
Apakah kembali ke Jakarta adalah suatu kesalahan bagi Mahoni?