Pengarang: Erni Aladjai
Penerbit: Gagasmedia
Tahun Terbit: 2013
Halaman: 250
Kisah Kei dibuka pada bulan November 2001, ketika Namira hendak pulang ke kampung halamannya di Kepulauan Kei dari Makassar. Dua tahun sebelumnya, ia terpaksa mengungsi ke Makassar setelah kerusuhan antarumat beragama yang berasal dari Ambon, pecah di kampung halamannya. Kini, ia rindu untuk kembali ke tanah kelahirannya dan juga untuk menemui orang-orang yang ia sayangi di sana.
Ain ni ain manut ain mehe ni tilur, wuut ain mehe ni ngifun -- kita semua bersaudara, kita adalah telur-telur yang berasal dari ikan yang sama dan seekor burung yang sama pula.
Sebelum kerusuhan tahun 1999, penduduk Kei adalah penduduk yang hidup dalam damai dan toleransi. Walau penduduknya terbagi dalam tiga agama besar: Islam, Katolik, dan Kristen, semua dapat hidup berdampingan karena memegang teguh adat bahwa semuanya bersaudara. Namira, yang beragama Islam, juga percaya hal itu. Sahabatnya, Mery, adalah pemeluk agama Katolik. Ketika kerusuhan melanda Kei, sebenarnya tidak ada yang tahu siapa yang memulai dan kenapa. Kerusuhan itu adalah buntut dari kerusuhan yang terjadi lebih dulu di Ambon, dan juga terlebih dahulu terjadi di Jakarta, ibu kota Indonesia. Pada saat itu terbagi dua kelompok: Kelompok Merah (Kristen) dan Putih (Islam) yang saling membantai dan juga membantai penduduk di kampung-kampung di Kei yang sebelumnya damai. Namira terpisah dari ibunya dan mengungsi ke Langgur. Di sana, ia bertemu Sala, seorang pemuda Kristen yatim piatu yang juga mengungsi dari desa Watran dan kini membantu para pengungsi lainnya.
Di Langgur, Namira dan Sala seperti mendapatkan saudara. Dengan mudah mereka menjadi dekat dan menjalani hari-hari di pengungsian dengan penuh optimisme. Mereka kemudian jatuh cinta dan, tanpa memedulikan perbedaan agama, Sala melamar Namira. Namun, kerusuhan akhirnya mencapai Langgur. Namira, yang mengungsi ke tempat Mery di Evu, terpaksa berpisah dengan Sala yang tinggal di Langgur. Hari-hari penuh ketakutan kembali mencekam. Pada akhirnya, kerusuhan juga sampai ke Evu, dan lagi-lagi Namira terpaksa mengungsi ke Makassar, meninggalkan tanah kelahirannya, kerabat, dan Sala.
Dua tahun kemudian, kerusuhan di Kei sudah mereda. Berhasilkah Namira pulang ke pelukan orang-orang yang ia cintai?
