Akhir tahun memang banyak acara perbukuan bagus. Setelah Festival Pembaca Indonesia pada tanggal 5-6 Desember lalu, minggu ini kita punya acara Kumpul Penulis Pembaca 2015 dari penerbit Gagasmedia Group dan Kompas Gramedia Fair dari penerbit Kompas Gramedia Group. Tapi... berhubung waktu saya terbatas dan pertimbangan posisi, saya memilih untuk hadir ke Kumpul Penulis Pembaca alias KPP 2015 yang diadakan di Galeri 678, kafe Never Been Better, dan Elmana Cafe, Kemang Selatan, Jakarta Selatan.
KPP memiliki rangkaian acara yang sangat menarik, di mana pembaca bisa berinteraksi dan belajar dengan pengarang-pengarang dan juga tim penerbit Gagasmedia Group (Gagasmedia, Bukune, Penerbit Panda, Entermedia). Acaranya digelar sehari penuh. Tahun lalu, acara KPP digelar 2 hari, Sabtu dan Minggu, tapi saya cuma bisa hadir di satu acara, yaitu Breakfast with Author. Tahun ini, saya mengikuti 2 acara: Book Talk: How They Do It dengan pembicara Erni Aladjai, Alexander Thian, dan Windry Ramadhina, serta Afternoon Class: Buku 101 dengan pembicara Ry Azzura, Cindy Gulla, dan Agung Nugroho.
Di sesi Book Talk: How They Do It, para penulis berbicara mengenai mengapa mereka menulis dan apa tema yang menarik mereka sehingga menjadi inspirasi dalam menulis. Ternyata, tiga orang pengarang ini memiliki beberapa hal yang sama. Pertama, baik Alexander Thian, Erni Aladjai, maupun Windry Ramadhina suka mengamati sekitarnya. Kalau Alex, di buku pertamanya, The Not So Amazing Life of AMrazing menulis pengalaman sebagai penjaga counter HP dalam menghadapi berbagai pelanggan. Erni Aladjai menulis seputar kegelisahan rakyat pedesaan dan juga pengaruh modernisasi terhadap mereka. Windry Ramadhina suka menulis tentang orang-orang terdekat, hal-hal yang ingin ia komunikasikan kepada mereka namun mungkin sulit dilakukan secara langsung, dan juga kegelisahan-kegelisahan dirinya. Kedua, ketiga penulis sama-sama suka menonton film dan belajar mengenai penggambaran setting dan permainan plot dari film.















